Cahaya lembut yang menembus celah dinding pusat pengungsian itu jatuh tepat pada wajah seorang bocah lelaki bernama Ahmed Nassar. Dalam sorot matanya, terpampang kelelahan yang tak seharusnya ditanggung oleh anak seusianya. Setiap hari, ia berangkat ke sekolah darurat yang berdiri di tengah tenda-tenda pengungsian, tempat yang lebih mirip ruang bertahan hidup daripada ruang belajar.
Di balik senyumnya yang tipis, Ahmed menyimpan luka-luka yang masih menghitam, bekas dari serangan yang baru saja menghantam daerah tempat tinggalnya. Luka itu bukan hanya fisik, tetapi juga batin, membekas dari hari-hari penuh suara ledakan, kepulan asap, dan ketakutan yang tak pernah benar-benar berhenti. Rumah yang dulu menjadi tempat ia bercanda, berlari, dan tidur dengan aman kini tinggal kenangan yang terburai di antara puing-puing. Ahmed dan keluarganya terpaksa meninggalkan semuanya.
Namun di tengah semua itu, ada cahaya kecil yang masih bertahan. Cahaya ketabahan dan harapan yang lahir dari keinginannya untuk terus sekolah, terus belajar, dan terus percaya bahwa masa depan tidak selalu sesuram hari-hari yang ia lewati sekarang.
Kisah Ahmed bukanlah kisah satu anak, tetapi cermin dari ribuan anak lain yang tumbuh di tengah konflik. Anak-anak yang seharusnya sibuk bermain, tetapi malah belajar bertahan hidup. Anak-anak yang kehilangan rumah, tetapi tetap mencari tempat bagi mimpinya.
Foto milik:Mahmoud Abu Hamda
Â

